Cerita Panas Main Gituan Bersama Mertua ku

cerita-panas-main-gituan-bersama-mertua-kuTerlíhat lagí kedua buah dadanya yang índah dan ranum ítu ! Saya mencíum pípínya dan berkata “Saya akan selalu mencíntaímu, percayalah !”. Saya merebahkan tubuhnya dan menarík tangannya yang laín yang menutupí vagínanya.

Akhírnya día menyerah dan pasrah saja terhadap saya. Saya tersenyum dalam hatí. Saya langsung buru-buru membuka seluruh pakaían saya untuk segera menuntaskan “ tugas “ íní ( maklum saja, kalau terlalu lama, transaksí Gunawan dengan Wawan selesaí, sayapun bísa ketahuan, ujung-ujungnya saya bísa saja terbunuh ! ).

Saya langsung mencíum mulut Víra dengan rakus. Víra kelíhatannya belum pernah cíuman sebelumnya karena día masíh kaku. Lalu saya mencíum lehernya dan turun ke arah buah dadanya. Saya menyedot kedua buah dadanya dengan kencang dan rakus dan meremas-remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat, Víra kelíhatannya kesakítan juga dengan remasan saya ítu,

Sayapun menarík-narík kedua pentílnya dengan kuat ! “Sakít kak “ kata Víra. Saya tídak lagí mendengar ríntíhan Víra. Saya mengulum dan menggígít pentíl Víra lagí sambíl tangan kanan saya meremas kuat pantat Víra. Setelah puas, saya membalíkkan badan Víra sehíngga Víra tengkurap.

Saya jílat seluruh punggung Víra sampaí ke pantatnya. Saya remas pantat Víra kuat-kuat dan saya buka pantatnya híngga terlíhat anusnya yang bersíh dan índah. Saya jílat anus Víra, terasa asín sedíkít ! Dengan jarí telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Víra kelíhatan meríntíh atas tíndakan saya ítu.

Saya angkat pantat Víra, saya remas bagían vagína Víra sambíl ía nunggíng ( posísí saya dí belakang Víra ). Víra sudah sepertí boneka maínan saya saja !. Setelah puas , saya balíkkan lagí tubuh Víra sehíngga ía terlentang, saya naík ke atas kepala Víra dan menyodorkan penís saya ke mulut Víra. “ Jílat dan kulum !” kataku. Víra ragu juga pada awalnya, tapí saya terus membujuknya dan akhírnya ía menjílat juga.

Penís saya terasa enak dan gelí juga díjílat olehnya, sepertí anak kecíl yang menjílat permen lolípopnya. “Kulum !” kataku, día lalu mengulumnya. Saya dorong pantat saya sehíngga penís saya masuk lebíh dalam lagí, kelíhatannya día sepertí mau muntah karena penís saya menyentuh kerongkongannya dan mulutnya yang kecíl kelíhatan sulít menelan sebagían penís saya sehíngga ía sulít bernapas juga. Cerita Panas Main Gituan Bersama Mertua ku

Pencarian Konten: